Quo Vadis Psikologi Islam Menuju Pengakuan Universal

Setelah Psikologi Humanisme mulai menyentuh kecerdasan spiritual yang sesungguhnya mempunyai dimensi vertikal, muncullah gagasan Psikologi Islam. Seperti halnya gagasan bank Islam—bank syari`ah—yang dulu dimustahilkan tetapi sekarang tumbuh menjamur, gagasan Psikologi Islam sebenarnya juga masih banyak ditolak oleh kalangan Western Psychology.[1]

Psikologi Islam atau ilmu nafs (bahasa Arab: “jiwa”) sebenarnya adalah salah satu ilmu pada zaman keemasan Islam yang memiliki kemiripan dengan Psikologi modern. Tokoh yang berperan dalam ilmu ini antara lain adalah Al-Kindi dan Al-Farabi yang merupakan pencetus terapi musik[2].

Kehadiran Psikologi Islam ke dalam disiplin ilmu pengetahuan sebenarnya merupakan sebuah kebanggan baru yang bisa diagungkan oleh orang-orang Islam dan non-Islam. Karena, kajian-kajian yang ada dalam Psikologi Islam ini bisa diaplikasikan kepada siapa saja. Hal ini menarik, karena dalam taraf tertentu ia mampu menyamakan dan mensejajarkan dirinya dengan teori-teori psikologi modern. Bahkan, Psikologi Islam secara lebih spesifik mampu tidak hanya membahas permasalahan-permasalahan horizontal, melainkan juga vertikal. Setidaknya ini menjadi kelebihan tersendiri bagi ilmu baru tersebut sebagai objek kajian yang tidak hanya memiliki dimensi ilahiah (teosentris), akan tetapi juga kajian kontemporer barat berdimensi insaniah (antroposentris).

Fuad Nashori[3] mempunyai beberapa alasan kenapa Psikologi Islam pantas dijadikan sebagai mazhab kelima dalam “dunia persilatan psikologi”. Pertama, Psikologi Islam mempunyai pandangan khas tentang dimensi sentral manusia, yaitu qalbu. Kedua, Psikologi Islam dalam konteks ilmu psikologi modern mempunyai cara pandang baru tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ketiga, Psikologi Islam memiliki potensi menjawab tantangan problema manusia modern. Dan keempat, Psikologi Islam berperan dalam memperbaiki situasi nyata kehidupan manusia.[4]

Sementara, jika kita berbicara perbedaan Psikologi Barat dengan Psikologi Islam, maka menurut Ridwan Hardiawan (1994) adalah pertama, jika Psikologi Barat merupakan produk pemikiran dan penelitian empirik, Psikologi Islam, sumber utamanya adalah wahyu kitab suci Al Qur’an, yakni apa kata kitab suci tentang jiwa, dengan asumsi bahwa Allah SWT sebagai pencipta manusia yang paling mengetahui anatomi kejiwaan manusia. Selanjutnya penelitian empirik membantu menafsirkan kitab suci. Kedua, jika tujuan Psikologi Barat hanya tiga; menguraikan, meramalkan dan mengendalikan tingkah laku, maka Psikologi Islam menambahkan dua poin; yaitu membangun perilaku yang baik dan mendorong orang hingga merasa dekat dengan Allah SWT. Ketiga, jika konseling dalam Psikologi Barat hanya di sekitar masalah sehat dan tidak sehat secara psikologis, maka konseling Psikologi Islam menembus hingga bagaimana orang merasa hidupnya bermakna, benar dan merasa dekat dengan Allah SWT[5]

Keinginan Psikologi Islam untuk menjadi madzhab kelima dalam “dunia persilatan psikologi” memang membutuhkan “kerja keras” agar pengakuan yang diinginkan pun bisa diperoleh. Kemudian, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimakah untuk mewujudkan itu semua?


Berikut penulis akan sedikit memaparkan beberapa terobosan baru yang bisa dilakukan agar Psikologi Islam bisa diakui secara total
1.      Mengubah Paradigma Berpikir
Langkah pertama dalam terobosan ini menurut penulis adalah dengan mengubah paradigma berfikir. Paradigma berpikir yang selama ini ada dalam tubuh Psikologi Islam, mau tidak mau harus lebih yakin, kritis dan konstruktif. Jangan sampai sebagai ilmu baru yang menginginkan cemerlang seperti bintang, ia malah takut untuk menggapainya.
2.      Seminar dan Simposium
Setelah mengubah dan yakin dengan paradigm berfikirnya, baru langkah kedua adalah dengan sering mengadakan seminar dan symposium. Hemat penulis seminar dan simposium ini adalah media praktis untuk bisa memperkenalkan kepada khalayak umum tentang Psikologi Islami yang menginginkan untuk menjadi madzhab baru tersebut. Sehingga, materi-materi dan seluk beluk dari Psiokologi Islam ini akan mudah untuk disebarluaskan—dan tentunya dipahami oleh—ke khalayak umum.
3.      Kajian Komunitas Psikologi Islam
Langkah selanjutnya yang juga termasuk dari hal terkait adalah perlu diperbanyak komunitas-komunitas kajian psikologi Islam. Dengan memanfaatkan media komunitas ini, maka tentunya psikologi Islam akan lebih mudah menyebar.
4.      Evaluasi
Sudah barang tentu evaluasi merupakan tahapan paling penting dari setiap proses. Lebih-lebih untuk Psikologi Islami yang notabene adalah ilmu baru yang menginginkan untuk menjadi madzhab kelima pasca psikoanalisis, behaviorisme, humanisme dan transpersonal.

Memang bukan pekerjaan mudah dalam mewujudkan sebuah ilmu pengetahuan yang dapat diterima secara luas (broadly acceptable). Freud saja konsepnya masih terus menerus dikritik dan dianggap tidak memenuhi kriteria ilmu pengetahuan oleh beberapa pihak. Namun inilah yang menjadi sasaran kritik saat ini. Hegemoni pengetahuan yang dikembangkan Barat memang cenderung kaku dan prosedural. Padahal fitrah ilmu pengetahuan itu adalah dinamis dan dalam kasus-kasus tertentu bisa jadi akan melawan kekakuan dan prosedur-prosedur yang disebut ilmiah.

Gagasan psikologi dengan mengambil perspektif kajian Islam menjadi hal yang masih terus dikembangkan. Empat terobosan di atas penulis pikir perlu untuk segera dilaksanakan, disamping masalah-masalah lain yang memang perlu untuk dipecahkan segera. Kendatipun masih banyak berbagai kelemahan dan kekurangan, sebagai disiplin ilmu yang relatif muda, tapi Psikologi Islam telah mampu menunjukkan perkembangannya yang sangat pesat. Untuk itu, prospek Psikologi Islam ke depan menjadi tanggung jawab kita bersama seperti ilmuan psikologi, praktisi, peneliti, institusi dan peminat psikologi Islam untuk menciptakan gerakan massif memperjuangkan tegaknya Psikologi Islam sebagai disiplin ilmu yang kokoh, baik di Indonesia maupun dunia internasional. Semoga!

Yogyakarta, Senin 22 Februari 2010 pukul 10.30
Di Kawah "Condrodimuko II" 01.03

[2] Icul Isa (2009) dalam sebuah catatan berjudul “Kapan Psikologi di akui dunia”
[3] Fuad Nashori adalah salah satu tokoh penggagas Psikologi Islami di Indonesia yang diundang oleh Departemen Agama pada bulan Agustus 2005 di Puncak-Bogor untuk merumuskan nomenklatur Psikologi Islam. Para pakar Psikologi Islam yang lain, yang juga diundang diantaranya adalah Hanna Djumhana Bastaman, Abdul Mujib, Yadi Purwanto, Mulyadi Kertanegara, Nasaruddin Umar, Netty Hartati, Zahrotun Nihayah, Mulyadi dan lainnya.
[4] Tulisan Rakimin al-Jawiy bertajuk “Problematika Psikologi Islam Kini dan Esok”. Lebih lanjut bisa dibaca di
http://www.kampusislam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=588 akses pada Senin 22 Februari 2010 pukul 18.55
[5] Ibid. “Psikologi Barat Vs Psikologi Islam”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana pendapat Anda terkait tulisan di atas? Silakan tinggalkan komentar Anda di sini