(QS. Ali Imran 3:31)
“Inni uhibbu bidzikri Ahmad” (aku suka ketika disebutkan kata Ahmad) demikianlah kira-kira orang Islam menyatakan salah satu rasa cintanya kepada sang junjungan nabi Muhammad SAW. Kata “cinta” dalam bahasa Arab disebut dengan mahabbah. Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiyah berarti mencintai secara mendalam atau kecintaan, atau bisa juga cinta yang dalam. Banyak para ulama terutama para kalagan Sufi memberikan definisi tentang mahabbah. Jika kita lihat hasil pendefinisian dan pemaknaan kata mahabbah, sangatlah berkaitan dengan pengalaman pribadi seseorang satu sama lainnya. Para kalangan Sufi menganggap mahabbah adalah sebagai modal awal untuk menjalin komunikasi kepada Allah SWT. Dalam buku “Tasawuf Madzab Cinta” buah karya Muhammad Roy, Abu Yazid al Basthami (w. 874 M) mendefinisikan mahabbah sebagai sikap menganggap sedikit sesuatu yang banyak yang berasal dari diri kita dan menilai hal sedikit yang bersumber dari kekasih kita sebagai sesuatu yang besar. Berbeda dengan definisi menurut Rabiah al Adawiyah (713-801 M), seorang wanita yang terkenal dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cintanya. Rabiah mendefinisikan mahabbah sebagai cinta seorang hamba kepada Allah Tuhannya. Rabiah mengajarkan bahwa yang pertama cinta itu harus menutup yang lain dan memalingkannya dari segala hal lain keculai hanya kepada Tuhan. Dalam sebuah doanya ia tidak minta dijauhkan dari neraka dan pula tidak meminta dimasukkan ke surga. Yang Ia pinta adalah dekat kepada Tuhan, “Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka, bukan pula karena ingin masuk surga, tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya.” (hal.53)
Secara terori kata mababbah (baca: cinta) memang dapat dengan mudah diartikan dengan kata-kata, akan tetapi cinta tekadang bisa membuat seseorang menjadi buta dan tuli. Tekadang orang yang mencintai tidak melihat sesuatu yang lebih indah daripada apa yang dicintanya. Boleh jadi cinta yang ditimbulkannya adalah cinta yang totalitas, seperti yang dikatakan oleh Muhammad Roy di tengah-tengah perkuliahan dengan santrinya, “Kalau seseorang mencintai dengan cinta yang totalitas, maka ia akan mengganggapnya dengan penuh keindahan, dengan penuh semangat, dan kalau ia patah hati, maka resikonya yang juga akan berat.”
Dalam kitab Tazkiyatun Nufuz, Ibnul Qoyyim menyebutkan wajib untuk membedakan antara lima macam cinta, karena ketidakmampuan membedakan masing-masing dapat terjerumus kedalam kebinasaan dan syirik mahabbah. Kelima hal tersebut ialah; Pertama, mencintai Allah SWT. Berarti sudah jelas, seperti yang dilakukan oleh para kaum Sufi seperti cinta yang diterapkan Rabiah Al Adawiah di atas, yaitu hanya ditujukan kepada Allah semata bukan selainnya. Kedua, mencintai apa-apa yang dicintai Allah. Kecintaan inilah yang memasukkan seorang hamba ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran. Maka manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling kuat dalam hal ini. Ketiga, cinta karena Allah. Berarti hal ini yang menjadi konsekuensi dari mahabbah sebelumnya. Artinya, seseorang tidaklah dianggap tulus dalam mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah melainkan dengan mencintai karena Allah dan di jalan Allah. Kemudian yang keempat, mencintai bersama Allah. Na’uudzubillah min dzaalik berarti hal inilah yang dimaksud dengan syirik mahabbah, yaitu mencintai sesuatu setara dengan Allah, bukan untuk Allah dan bukan pula karena Allah. Kemudian pembagian yang terakhir, kelima adalah mahabbah thabbi’iyyah yaitu kecenderungan manusia kepada apa yang memang menjadi tabiatnya atau dalam teori Abraham Maslow, tokoh psikologi, dikenal dengan physiological need (kebutuhan fisiologis) manusia. Seperti orang yang lapar menyukai makanan, orang yang mengantuk menyukai tidur, seseorang yang mencintai istrinya, dan seterusnya. Yang demikian ini, maka hukumnya diperbolehkan asalkan tidak melalaikan diri dari perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT.
Telah disebutkan dalam QS. Ali Imran: 14 bahwa wanita, anak dan segenap harta bendanya merupakan obyek-obyek cinta yang halal untuk dicintai. Manusia dihalalkan untuk mencintai hal-hal yang bersifat duniawi, selama kecintaannya itu tidak diharamkan seperti mencintai (baca: meminum) khamr, berjudi, mencuri, berzina, yang, kesemuanya itu adalah perbuatan-perbuatan terlaknat dan jelas-jelas diharamkan oleh syara’.
Pertanyaan selanjutnya, kenapa cinta yang tidak berpangkal kepada Allah tidak diperbolehkan?. Cinta yang tidak berpangkal pada Allah (baca: hanya cinta dunia saja) hanyalah merupakan cinta sementara yang timbul karena ada sesuatu atau hal lain yang disebabkan oleh orang yang dicintanya. Contoh: fulan mencintai seorang wanita karena ia menganggap wanita itu memiliki beberapa sifat yang menurutnya cocok dengan dirinya. Kecintaan yang demikian muncul karena adanya sebab terlebih dahulu, sehingga ketika di lain hari sebab itu hilang maka cinta itupun akan turut lenyap. Maka, dari sini dapat dipahami bahwa sebenarnya cinta kepada hal duniawi bukanlah cinta abadi.
Dalam makalah yang ditulis santri Pondok Pesantren UII, disebutkan bahwa mahabbah atau cinta dapat menyempurnakan jiwa dan menggugah semangat serta kemampuan yang tertanam dalam diri manusia. Dengan cinta, novelis tersohor, Habiburrohman el Shirazy pun juga berpendapat mampu mengubah duri menjadi mawar, cuka menjadi anggur, sakit menjadi sehat, penjara menjadi istana, amarah menjadi ramah, dan musibah menjadi muhibbah. Itu lah cinta yang oleh Habiburrohman tulis di novelnya “Ketika Cinta Bertasbih” dengan perubahan dari puisi Rumi dalam Masnawinya (hal. 68). Dengan cinta pula seseorang yang malas dapat menjadi rajin, orang yang tamak dan kikir menjadi dermawan. Cinta juga memberikan kekuatan dan kesabaran untuk melakukan pengorbanan terhadap apa yang dicintanya. Seorang hamba yang mencintai Allah SWT, maka dia akan selalu mengingat-Nya kapan dan dimana pun ia berada. Dia akan selalu merasakan getaran-getaran cinta yang terjalin antara dirinya dengan Sang Kholiq, hingga hatinya suci dan berujung pada amal perbuatan yang selalu ma’ruf nahi munkar.
Akhirnya, hanya dengan mahabbah lah kita akan mendapatkan kasih sayang Allah SWT. Seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang tidak kasih sayang, maka ia tidak akan dikasihsayangi.” (HR. Bukhori). Hadaanallah ilaa sirootil mustaqiim. Waallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Bagaimana pendapat Anda terkait tulisan di atas? Silakan tinggalkan komentar Anda di sini