“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An nuur 24: 21)
Pada umunya setiap manusia pastilah mendambakan arahan perjalanan hidup yang pasti dan jelas. Bagi ummat Islam, arahan perjalanan hidup yang pasti dan jelas itu ialah al Qu’an dan as Sunnah. Beratnya langkah untuk hidup secara pasti dan jelas ialah karena langkah manusia itu terkadang dibelokkan oleh ribuan bujukan rayu dan tipu daya syaitan. Semakin terbelok dan terbujuk manusia, maka semakin tebal pula dosanya. Bila diibaratkan, maka perjalanan manusia yang memikul dosa itu laksana seekor unta yang berjalan timik-timik, menyeberang lautan pasir luas tanpa batas, mencari tujuan akhir hidupnya tanpa kepastian dan kejelasan. Maka, dengan penuh rasa iba melihat manusia yang sungguh berat memikul beban dosa, Allah menyeru kepada para hamba-Nya untuk hidup bebas dari beban dosa, artinya untuk hidup benar dengan akhlaq indah terpuji. Seruan itu, dalam Al Qur’an diungkapkan dengan kata “Wahai”.
Pertanyaannya, tidakkah manusia–khususnya ummat Islam–memperhatikan bagaimana cara Allah menyeru kepada manusia? Bila manusia jeli memperhatikan dengan rasa indah di dalam firman-Nya, baik dari segi kata, bahasa maupun intonasi ataupun nada kata, maka akan dirasakan adanya getaran jalinan kelembutan dan keakraban dari Sang Kholiq kepada hamba-Nya. Artinya, dialirkanlah getar kelembutan dan keakraban Allah dalam menyeru manusia. Hal ini tidak lain tidak bukan hanyalah karena untuk memancing kesadaran manusia, bahwa bagaimanapun dan siapa pun manusia itu, maka ia tidak akan dapat melepaskan diri dari Allah, disebabkan Allah selalu mengakrabkan diri dengan manusia.
Meskipun manusia berusaha membuat jarak dengan Allah, Allah tetap saja menyeru (baca: menyapa) dengan bahasa dan kata yang mengandung kelembutan dan keakraban. Inilah yang menjadikan manusia sulit melepaskan diri dari Allah. Dalam hal ini, cara Allah menyapa manusia dibagi dalam beberapa kelompok disesuaikan dengan tingkat keyakinan. Jika ummat Islam mau mengambil hikmahnya, maka tampaklah di dalamnya kandungan bagaimana Allah mendidik dan membina hamba-Nya. Anehnya, mengapa manusia selaku sesama ciptaan-Nya tidak saling menghargai, bahkan sebaliknya saling mencerca dan mencela? Padahal sudah jelas, sapaan Allah kepada manusia hanya berdasarkan kelompok yang disesuaikan dengan tingkat keyakinannya, seperti “Wahai Rasul,” “Wahai Nabi,” “Wahai Manusia,” atau seperti pada awal ayat di atas “Wahai orang-orang yang beriman,” atau di ayat lain “Wahai orang-orang kafir,” “Wahai Bani Isra’il,” dan seterusnya.
Allah memanggil hamba-Nya semata-mata karena kemurahan dan kasih-Nya, sedangkan manusia, seseorang yang dipanggil oleh atasannya, biasanya karena akan diberi penghargaan. Misalnya, seorang presiden yang memanggil salah seorang warganya untuk diberi penghargaan berbentuk tanda jasa karena memang telah nyata jasanya bagi bangsa dan negara. Namun bagi Allah, Dia memanggil para hamba-Nya bukan karena kebaikan atau keburukan si manusia itu. Akan tetapi semata-mata karena belas kasih dan iba-Nya kepada manusia. Allah akan tetap memberikan pertolongan tanpa didahului permintaan si hamba. Allah tidak menunggu si hamba memohon dengan penuh harapan dan ketulusan. Meskipun si hamba belum memohon (baca: meratap) dengan sungguh-sungguh disertai dengan ketulusan hati, akan tetapi tetap saja Allah akan mengulurkan tali pertolongan-Nya. Maka sudah sepatutnya bila manusia khususnya ummat Islam mensyukuri tali pertolongan Allah swt itu.
Pertanyaannya, bagaimana cara mensyukurinya? Yang banyak dilupakan oleh ummat Islam ialah mengkaji kandungan makna keilmuan yang ada di dalam al Qur’an tersebut. Pernahkah ayat-ayat al Qur’an itu kita perhatikan dengan seksama, dan lanjut dengan memohon secara sungguh-sungguh agar Allah memudahkan untuk memahaminya, mengerti dan menyikapi petunjuk arah perjalanan hidup ini? Pernahkah kita renungkan secara mendalam kata demi kata dalam ayat-ayat Allah, surah demi surah, bagian demi bagian al Qur’an (baca: juz) pada segi persoalan apa sehingga Allah menolong hamba-Nya?
Adanya kata sapaan “Wahai” (harfun nidaa’ يَآ) pada ayat-ayat al Qur’an itulah maka terbukti nyata bahwa Allah menolong hamba-Nya. Terasa betul bagaimana belas kasih Allah kepada si hamba. Apabila dalam juz tertentu si hamba disapa oleh Allah dengan sapaan misal seperti “Wahai orang-orang yang beriman,” seakan tersirat suatu makna bahwa Allah swt menghendaki hamba tersebut makin tumbuh kokoh keimanannya. Seperti misalnya pada ayat pembuka di atas (QS. An Nuur 24: 21), manusia beriman diseru untuk mewaspadai bujukan-bujukan syaitan dan diingatkan bahwa bujukan-bujukan itu hanya akan mengajak kepada perbuatan sesat dan tercela.
Akhirnya, dengan cara mencermati ayat-ayat Allah itulah, maka muncul sedikit demi sedikit rasa syukur dalam diri manusia. Jika ayat demi ayat itu telah kita resapi, maka akan terasa betul bahwa maksud Allah menurunkan al Qur’an tidak lain tidak bukan ialah untuk mengulurkan tali pertolongan bagi ummat manusia. Semoga tulisan sederhana ini mengingatkan hati pribadi penulis khususnya dan para pembaca budiman umumnya. Sehingga, Allah swt menggerakkan hati kita untuk selalu mensyukuri hidup melaui sapaan-sapaan lembut yang Allah berikan. Hadaanallaah ilaa shiraatil Mustaqiim. Wa’allahu ‘Alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Bagaimana pendapat Anda terkait tulisan di atas? Silakan tinggalkan komentar Anda di sini