Jadi Presiden

Jadi presiden itu benar-benar tidak enak, kan ya?. 
Sering kali rawan
dan terasa diawasi terus.
Dikejar-kejar wartawan
karena berpengaruh bagi publik.
Kebijakannya dituntut harus bisa adil
dan membungahkan (baca: membahagiakan) publik


Pasti deh, kalau sudah begini,
ia jadi tidak bisa bebas 
karena dipantau terus oleh media


Hayo, siapa yang masih punya cita-cita pengen jadi presiden? ^_^ :V


#Selamat berakitivitas & selamat menempuh lembaran baru. Nanti malam, malam pertama :-)



Resensi Buku Status Update for the Best Student

Judul            : Status Update for the Best Student
Penulis         : Agung Baskoro
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan        : Pertama, 2012
ISBN            : 978-979-22-8490-4
Tebal           : 201 halaman

Resentator Oleh: Nur Haris Ali*)

Buku Kreatif, Buku Status Update for the Best Student
Kemajuan teknologi jejaring sosial kini semakin pesat. Pasca Facebook (FB) dilaunching Mark Zuckerberg pada Februari 2004 lalu, jumlah pengguna FB, untuk saat ini, ada sekitar 1 dari 13 orang di dunia. Dan negara kita, Indonesia, termasuk negara kedua terbanyak di dunia dengan jumlah 35.174.940 pengguna setelah Amerika dengan jumlah 152.189.880 (Baskoro, 2012). Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, ada berapa penggunakah yang memanfaatkan FB untuk dijadikan buku?

(c) Nur Haris Ali

Kreatif! adalah kesan yang saya temukan setelah membaca buku Agung Baskoro ini. Dengan piawainya, Agung yang pernah meraih penghargaan MURI terkait Sekolah Antrikorupsi pertama di Indonesia (2006) ini memanfaatkan (hanya) 62 tulisan status FB pribadinya dengan menyatukan dalam format buku. Pertanyaaan what’s on your mind? pada FB, yang bagi sebagian orang sekadar tulisan iseng, menjadikan The Next Leader Metro TV 2009 ini untuk sedikit berpikir out of the box. Tak sekedar update status, melainkan Agung menebarkan pesan-pesan positif untuk para pembaca account FB-nya. Lewat bukunya ini, Agung pun berhasil menyuguhkan realita kehidupan sosok mahasiswa dan berbicara soal bagaimana agar mahasiswa bisa bersikap ideal. Baik dalam kampus maupun luar kampus.

Dalam buku perdananya, finalis Asia Pacific Information and Communication Technology Award (APICTA) di Singapura (2010) ini juga menampilkan beberapa quotes inspiratif untuk mendukung pandangan yang ia berikan dari komentar-komentar di FB-nya. Ia juga melengkapinya dengan kiat-kiat meraih beasiswa, jenis-jenis beasiswa, tips dan triks jadi aktivitis dalam dan luar kampus, soal anak kos, soal senioritas kampus, soal Kuliah Kerja Nyata (KKN), skripsi, serta segudang aktivitas lain yang biasa terjadi di kalangan mahasiswa.

“Kalau ada peluang student exchange…summer school…international conference…dan sejenisnya, cobalah berpartisipasi…bila terbentur soal dana, Insya Allah bisa…asal ini ‘DIRENCAKAN!” (hal. 143)

“Sering pinjam duit, buku, laptop, beserta onderdil kosan lainnya? Atau…minta tolong diantar-jemput seperti ojek and taxi?...ngga apa-apa. Asal ikhlas lho ^_^…yang jelas, kalau ujian, ngga ada masa simpan-pinjam jawaban atau tolong-menolong buat ditraktir soal…Hentikan!” (hal. 159)

Seru punya banyak temen…apalagi kalau temennya, Papan Pengumuman, Mailing List (Milis), Browse,…intinya yang menguasai dunia saat ini adalah mereka yang memiliki lebih banyak informasi (hal. 126)

“Berprestai adalah kebanggaan seorang mahasiswa. Namun, hal itu sulit bila dilakukan sendiri tanpa didukung iklim yang kondusif. Beprestasi adalah tanggung jawab bersama karena merupakan efek pendidikan yang dilakukan oleh kampus. Sayangnya […] Apresiasi terhadap mahasiswa-mahasiswa berprestasi di kampus masih minimal, padahal mereka mengharumkan nama kampus bahkan bangsa di tingkat dunia. Sungguh ironis bila putra-putri terbaik ini hanya dijadikan etalase atau klaim keberhasilan” (Salah satu pandangan Agung, Hal. 165)

Sesuai dengan judulnya, Update Status for the Best Student, pembaca seolah-olah seperti membaca status FB Agung yang sedang “galau”. Tapi galaunya ini lain dari pada yang lain. Agung Baskoro, penulis buku ini, “galau” terhadap generasi Indonesia bila mereka hanya lengah dengan rutinitas kuliah saja. Lewat 62 updetan statusnya, Agung menuangkan pemikirannya secara lepas agar mahasiswa mampu meningkatkan skills-nya, untuk bekal kehidupan pasca kampus berikutnya.

“Kalau masih nyari kerjaan juga, apa bedanya dengan masa lalu?”. “Tingginya angka pengangguran bagi kelulusan sarjana memberi sinyal bahwa entrepreneur menjadi salah satu peluang untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru. Kuncinya ada di orisinilitas ide dan inovasi yang ditawarkan. Kalaupun belum mampu menjadi entrepreneur, minimal buat pekerjaan yang mencari kita, bukan kita yang mencari pekerjaan. Syaratnya indeks prestasi yang memuaskan, pengalaman berorganisasi, jaringan, dan kemampuan berbahasa asing. Kedua poin itu merupakan langkah alternatif sekaligus solusi yang bisa dipastikan dan dipersiapkan sejak di kampus” (hal. 184)  

“Bekerja, berwirausaha, atau kembali melanjutkan studi (S2/S3), bukan dikotomi (terpisah atau dipertentangkan), karena setiap pilihan hadir untuk melengkapi dan memberi arti bagi setiap hidup yang sedang dan akan dijalani” (hal. 191)

Meski buku ini jauh dari sistematika penulisan seperti kebanyakan buku lainnya, justru inilah yang menjadi cara out of the box Agung untuk menyuntikkan beberapa tips dan triks menjadi the best student—versi dia. Seperti yang saya sebutkan di awal, pembaca akan diajak seolah-olah seperti benar-benar membaca updetan status penulis buku ini. Hebatnya, penulis buku ini tidak sekedar bicara soal kuliah, tapi juga nikah, mimpi, organisasi, teman, beberapa sitiran hadits dan hasil wawancara dari tokoh yang ia kutip. 

“Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, maka berbuat baiklah kepada ibu ayahnya dan menyambung tali persaudaraan” —HR.  Imam Ahmad (hal. 158)

“Jangan terlalu membenani jiwamu dengan kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal ringan dan lucu, sebab jika hati terus dipaksakan memikul beban-beban berat, ia akan menjadi buta”—HR. Abu Dawuh (hal. 81)

Buku ini memang tidak masuk genre buku motivasi. Juga bukan pula masuk genre buku pengembang diri. Namun, content dalam buku ini, sangat cocok dibaca oleh para mahasiswa—terutama mahasiswa semester-semester awal—yang ingin memperluas jaringan, meningkatkan kualitas, dan belajar pengalaman dari sosok mahasiswa senior seperti Agung Baskoro, Mahasiswa Berprestasi Fisipol UGM 2009 dan Wakil Presiden UGM yang pernah jadi Koordinator Litbang BEM Seluruh Indonesia tahun 2008 ini. Sedikit berpikir kreatif saja bisa jadi buku, bagaimana jika banyak ya? Selamat membaca!

DreamCatcher: Simpel, Inspiratif Tak Sekedar Bicara Mimpi!

RESENSI BUKU
(c) Nur Haris Ali

Judul               : DreamCatcher
Penulis            : Alanda Kariza
Editor              : Resita Wahyu Febiratri
Penerbit          : GagasMedia, Jakarta Selatan
Tahun             : 2012
Cetakan          : Pertama
ISBN               : 979-780-537-9
Tebal              : xii + 220 halaman
Resentator      : Nur Haris ‘Ali*)

DreamCatcher: Simpel, Inspiratif Tak Sekedar Bicara Mimpi!

Tidak semua orang bisa meraih mimpi. Tidak semua orang bisa fokus pada hal-hal yang menjadi passion-nya. Banyak orang yang telah diberi kesempatan, namun akhirnya tidak melakukan hal terbaik hanya karena “malas”. Mereka lupa bahwa ada mimpi yang siap jadi energi penggerak untuk terus berusaha. Ada mimpi yang siap jadi penyemangat saat terjatuh. Ada mimpi yang siap jadi panduan untuk melangkah. Sebuah mimpi akan terwujud bukan karena takdir, bukan pula keberuntungan. Tapi karena adanya kerja keras dan kemauan yang kuat, untuk mewujudkannya.

“Karena sebuah mimpi membuat kita bisa memiliki tujuan dalam hidup. Sebuah mimpi mampu menekan keraguan kita akan masa depan” (hal. 7)

Demikian kira-kira Alanda Kariza, sang penulis buku, mendefinisikan arti penting sebuah mimpi dan bagaimana untuk terus persisten guna meraihnya. Simpel dan inspiratif adalah dua kata yang saya sematkan setelah membaca habis buku DreamCather-nya Alanda ini. Simpel karena Alanda—yang pernah mewakili Indonesia dalam forum International-Global Changemakers (2008)—tak sekedar bicara bagaimana merancang sebuah mimpi, tapi ia juga memberikan semacam tools berupa lembaran-lembaran aktivitas untuk mencatat hal-hal yang ingin kita capai. Inspiratif karena anak muda Indonesia—yang juga pernah mewakili Indonesia dalam One Young World (2011)—ini tak sekedar bicara bagaimana memanfaatkan kekurangan, meningkatkan produktivitas, tapi juga berbagi bermacam quotes pembakar semangat serta pengalaman-pengalaman inspiratif lain dari orang-orang hebat yang pernah ia temui.

Setelah membaca buku ini, pembaca rasa-rasanya memang dilarang untuk tidak hanya sekedar memiliki mimpi, tapi juga bangkit dan kemudian mewujudkan mimpi-mimpinya.

“Mimpi itu kebutuhan. Layaknya udara, tanpa disadari, aku, kamu, dan kita semua membutuhkan mimpi. Mimpilah yang menuntun kita atas apa yang kita kerjakan saat ini, karena hari ini adalah jawaban atas mimpi kita tempo hari” (Salah satu quotes yang dikutip Alanda dalam buku DreamCather ini)

Dalam buku ini, Alanda yang sejak SMP pernah menggagas komunitas sosial The Cure For Tomorrow (TCFT), berhasil membongkar proses penemuan mimpi dan memberikan pendekatan langkah demi langkah yang ia kumpulkan dalam lima bab: Inventing Your Dream, Takedowns, Designing the Blueprint, Making Them Come True dan yang terakhir Living It. Cerita-cerita inspiratif yang Alanda suguhkan pun, baik pengalaman pribadinya ketika menggagas Indonesian Youth Conference tahun 2009 maupun pun cerita inspiratif lain dari orang-orang hebat yang pernah ia temui, menjadi mayoritas konten dari buku ini. Salah satu pengalaman yang Alanda ceritakan, adalah ketika dirinya pernah bertemu dengan Mousa Mosawy, sosok pemuda asal Baghdad, yang seumur hidupnya selalu duduk di kursi roda.

Tulisnya, “Ia (Mousa Mosawy—res.) mewakili anak muda dunia untuk menyuarakan pendapatnya di World Economic Forum yang diselenggarakan di Davos. Mousa menjadi relawan di Iraqi Health Aid Organization dan mengembangkan program The School of Light, yang bertujuan melengkapi sekolah lokal bagi tunanetra dengan alat-alat yang mereka butuhkan. Ia juga mengembangkan First Aid Link, gerakan yang mengirimkan kotak pertolongan pertama kepada keluarga-keluarga yang tinggal di daerah konflik. Bertemu dengan pemuda seperti Mousa membuat saya percaya bahwa bahkan keterbatasan fisik seharusnya tidak membatasi kita dalam berkarya. Kita bisa tetap bercita-cita dan berkontribusi secara positif terhadap lingkungan dan masyarakat” (hal. 31-32).

Kelebihan lain yang saya catat dalam buku ini adalah Alanda—yang pernah menerima Young Changemakers Awards 2010—ini juga menyuguhkan beberapa hasil interviu dengan sejumlah tokoh muda Indonesia yang telah sukses pada bidang masing-masing. Seperti (baca hal. 80) interviu dengan Jourdan Hussein, anak muda Indonesia yang ketika masih SMA mewakili Indonesia di Pacific Rim International Camp, Jepang, penerima Social Activist Award, Daventport Grant, Skirm Prize dan Public Policy & International Affairs Fellowship dari Amerika Serikat untuk menjalani training intensif di Woodrow Wilson School of Public & International Affairs (Junior Summer Institute), Princeton University. Serta masih banyak lagi sosok muda inspiratif lain yang diwawancarai Alanda seperti Fika Fawzia, wakil Indonesia pada Cathay Pacific International Wilderness Experience di Afrika Selatan, Bayer Young Environmental Envoy di Jerman; Goris Mustaqim, penggagas ITB Entrepreneurship Challenge (IEC), nominator Asia’s Best Young Entrepreneurs (2009) versi majalah BusinessWeek, dan satu-satunya orang Indonesia ke empat, yang pernah berjabat tangan langsung dengan Presiden Barack Obama karena diundang jadi pembicara pada Presidential Summit on Entrepreneurship (2010) di Washington D.C (hal. 126).

Bagi saya, buku ini akan sangat tepat bila dibaca bagi jiwa-jiwa muda yang mencari makna mimpi dan membutuhkan tools untuk menangkapnya. Selain bicara mimpi, pembaca juga akan diajak mengarungi arti penting sebuah pilihan, prinsip, keyakinan, waktu, konsistensi dan juga kesehatan. Khusus bagian terakhir ini, kesehatan, saya benar-benar tak mengira, sosok penulis yang pernah jadi pembicara pada High Level Panels on Youth: “Global, Youth, Leading Change” (2011) ini akan menjabarkan kesehatan dalam buku semacam ini. Tulisnya, “kesehatan tentunya adalah hal paling penting untuk kita miliki. Jika kita sedang sakit atau memiliki badan yang kurang fit, seluruh aktivitas akan terganggu […] minum banyak air putih, paling tidak delapan kali sehari. Setiap kali sedang menulis (yang biasanya memakan waktu berjam-jam), saya selalu ditemani segelas air putih yang langsung saya isi ulang ketika habis.” (hal. 211).

Sayang, ada beberapa typo (kesalahan penulisan) dalam buku ini. Menemukan juga cerita penulis yang—menurut subjektif saya—tidak konsisten dengan cerita dia sebelumnya. Tapi secara keseluruhan, buku ini saya katakan patut untuk dapat apresiasi setinggi-tingginya. Meski ia tak lebih sekadar dari sebuah buku non fiksi, namun mampu benar-benar jadi pengembang diri. Mampu menyuguhkan lembaran-lembaran tools guna menangkap mimpi,  dan mampu berbagi bermacam quotes inspiratif guna melengkapi. Salah satu quote yang membikin saya shock adalah “Have no Plan B”!

“Mungkin aneh, tapi inilah salah satu prinsip yang saya pengang dalam hidup saya. Sama hampir tidak pernah memiliki rencana cadangan dalam menghadapi sesuatu […] Terkadang (jika kita—res.) memiliki Rencana B, membuat kita tidak berusaha sekuat yang seharusnya untuk merealisasikan Rencana A yang (pernah—res.) kita miliki. Mungkin ada baiknya untuk tidak memiliki Rencana B sama sekali” (hal. 59-63).

Saya pun jadi tambah termotivasi untuk membaca habis buku ini dan menemukan pernyataan inspiratif lagi: satu-satunya hal yang membedakan diri kita dengan orang lain adalah kemauan kita untuk bermimpi dan mengikutinya dengan aksi nyata. Dreams have to be grand and seem unachievable! terjemahan bebasnya, mimpi harus sangat besar dan terlihat seolah-olah tak mampu untuk dicapai. Itu! bagaimana menurut Anda? Selamat membaca!

*Nur Haris Ali,
Mahasiswa Program Studi Psikologi UII


_______________

Naskah resensi ini sedang dalam proses masuk percetakan untuk diterbitkan di Jurnal Khazanah UII edisi Juni 2012 Volume V Nomor 1. Pembaca yang memiliki hobi meresensi buku atau sejenisnya dan punya passion dalam hal karya tulis dan penelitian, silakan mengirimkan naskahnya ke alamat: jurnalkhazanah@yahoo.com di-Cc-kan ke: haris.alhakim@yahoo.com untuk diterbitkan di Jurnal Khazanah UII edisi selanjutnya.
_______________

Tools of dreams